Berita

Minggu, 11 November 2018 - 13:19 WIB

1 tahun yang lalu

logo

Ulil Abshar Abdalah mengenakan baju putih tengah saat foto bersama dengan IKA PMII.

Ulil Abshar Abdalah mengenakan baju putih tengah saat foto bersama dengan IKA PMII.

Ulil Abshar Abdalla Ngaji Ihya’ Ulumuddin di Blitar

Ulil Abshar Abdalah mengenakan baju putih tengah saat foto bersama dengan IKA PMII.

MATABLITAR.COM – Ulil Abshar Abdalla menantu KH A Mustofa Bisri, Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang hadiri acara peringatan Hari Pahlawan di Blitar.

Acara yang digelar oleh Ikatan Keluarga Alumni PMII Blitar ini diselenggarakan di Pendopo Islam Nusantara (PINus), Desa Sekardangan, Kecamatan Kanigoro. Sabtu (10/11/2018).

Dalam kesempatan ini, Gus Ulil sapaan akrabnya mengatakan tidak ada tema khusus saat ngaji kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali.

“Tidak ada tema khusus dalam ngaji Ihya’ karena selama ini sifatnya continue dari suatu daerah ke daerah lain,” katanya dihadapan jamaah.

Gus Ulil yang dikenal masyarakat secara luas dengan motode ngajinya dengan cara live streaming via Facebook ini mengatakan sifat akhlak adalah natural, dan menetap dalam an-nafs (jiwa).

“Semisal contoh, akhlak dermawan. Saat orang dikatakan dermawan sifat yang keluar dari haiatun rosihotun (kondisi kejiwaan yang permanen), sehingga dalam melakukan sesuatu ia merasa bahagia, lantaran sifat tersebut telah menjadi bagian dari dirinya,” katanya.

Lanjutnya, berbuat dermawan tidak hanya saat musim politik saja, akan tetapi kapanpun dan dimanpun kita berada kita harus berbuat dermawan agar bahagia.

“Ia tidak akan bahagia jika tidak dermawan kapanpun dan dimanapun. Namun jika ada orang yang hanya dermawan musiman, berarti ia belum sampai pada tingkatan akhlak dermawan yang sebenarnya,” lanjut Gus Ulil

Pihaknya juga menjelaskan, Al-Ghazali membagi dua gaya yang berperan penting dalam diri manusia. Pertama, ghodhab yaitu daya yang mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang bersifat keluar (agresif) dan yang kedua syahwat yakni dorongan atau motivasi untuk melakukan sesuatu.

“Keduanya sama-sama positif jika seimbang, ghodhab akan menjadi akhlak negative jika berlebihan, lantaran tindakannya tidak dapat dikontrol. Begitu pula dengan syahwat harus seimbang tidak lebih dan tidak kurang. Sehingga al-Ghazali menganalogikan ghodab dengan anjing dan menyamakan syahwat dengan celeng,” jelasnya.

Pihaknya juga mengatakan, untuk mencapai akhlak yang sebenarnya perlu adanya latihan atau dalam dalam Bahasa Jawa akhlah itu adalah olah roso.

”Jadi semuanya membutuhkan proses panjang untuk mencapai tingkatan akhlak yang sebenarnya, perlu adanya riyadlah atau latihan,” tutupnya.

 

Reporter : Moh Azhari

Editor : Redakasi


Artikel ini telah dibaca 241 kali

Loading...

Hosting Unlimited Indonesia
Baca Lainnya