Opini Sastra

Selasa, 8 Oktober 2019 - 14:25 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Sodiqul Anwar. Pembina Lembaga Moeda Patria Blitar

Sodiqul Anwar. Pembina Lembaga Moeda Patria Blitar

BMI, Mengejar Hak Gaji Hingga Ke Negeri Sendiri

MATABLITAR.COM– Tidak ada habisnya kisah pilu Buruh Migran Indonesia (BMI) di luar negeri . Cerita pun beragam, mulai dari disiksa majikan, ditahan police karena ilegal hingga tidak digaji. Adalah Samsul, seorang BMI salah satu contoh dari sekian banyak kisah pilu tersebut. Dia tidak memperoleh gaji sebagaimana mestinya, lalu pulang ke tanah air demi mengejar hak gaji.

Bermula, Samsul sapaan nama akrab warga Blitar yang pernah bekerja di negara Malaysia. Ia menjadi caddy golf di salah satu perusahaan di sana. Dahulu, tepatnya 22 Desember 2014 waktu berangkat ke negeri Upin-Ipin tersebut berharap pulang membawa banyak uang. Harapannya pupus, setelah 31 bulan gajinya tidak dibayar. Kemarin pertengahan tahun 2018, Ia terpaksa pulang dan kembali ke tanah air. Dia mengejar hak gajinya hingga ke Jakarta. Kok bisa?

Samsul, raut wajahnya terlihat kusut ketika ditemui di kantor Migran Care yang beralamat di Jl. Jatipadang I No.5A, RT.5/RW.3, Jati Padang, Jakarta, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540, pada hari selasa 17 september 2019. Ia mengaku sudah capek menunggu ketidak pastian gajinya yang seharusnya ia dapatkan waktu bekerja. Rasa kesal, sekaligus bingung bercampur aduk tidak karuan. Samsul terus kepikiran, bagaimana caranya meminta gaji ke bos PT. Golfersmate- lesure golf dimana ia bekerja.

“Saya ke Jakarta mencari keadilan, sudah kemana saja mas, ke penegak hukum, lembaga Advokasi BMI, Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim Polri), dan rencananya akan melaporkan ke lembaga pemerintah terkait tentang apa yang telah kami alami selama bekerja di Malaysia”. Tutur samsul sambil menunjukan beberapa teman senasib yg duduk bersebelahan.

Memang kasus tenaga kerja Indonesia tidak dibayar sudah menjadi masalah klasik. Perlakuan seperti ini tidak hanya terjadi sekali, dua kali, akan tetapi banyak sekali. Hampir setiap tahun ada. Baru-baru ini KJRI Penang baru saja berhasil mengurus penyelesaian pembayaran gaji TKI atas nama Siti Khasanah, yang telah bekerja di Malaysia sejak 2007 dan tidak pernah dibayar oleh majikan selama kurang-lebih 11 tahun.

Menurut rilis data KJRI Hingga September 2018, KJRI Penang secara keseluruhan telah berhasil menyelesaikan permasalahan gaji TKI sejumlah RM 542.233 atau setara dengan Rp 1.951.762.449. “Pencapaian ini merupakan salah satu bentuk perlindungan KJRI Penang kepada WNI yang berada di wilayah kerja KJRI Penang,” ucap Osrinikita. ( detik.com/Senin 01 Oktober 2018, 23:17 WIB).

Lelaki yang lahir tahun 1982 ini mengakui, proses keberangkatannya ke malaysia tidak memakai jalur resmi. Sebuah pilihan praktis yang harus Samsul pilih, karena prosesnya cepat dan tidak ribet. Hanya bermodalkan pasport dan visa berkunjung sudah bisa terbang ke Malaysia dan bekerja.

Di sela-sela menikmati kopi dan cemilan, bapak dua anak ini berkelakar, “Melalui jalur resmi prosesnya lama, sementara perusahaan yang mencari tenaga kerja, segera butuh jawaban dan tindak lanjut” ujar Samsul sambil menghela nafas panjang, pandangannya jauh menembus awan pekat dan gemuruh bisingnya Jakarta.

Pemuda yang berasal dari Desa Sutojayan, Kabupaten Blitar ini bercerita, bahwa ia berangkat bekerja atas informasi dan ajakan sang istri, Wijayanti. Kala itu istri sudah bekerja di Malaysia. Mengingat hari-hari menjadi pedagang es lilin semakin sepi pembeli, Samsul berniat mencari pekerjaan lain. Selain itu, Samsul dari awal sudah berniat menyusul istri.

Berbekal pengalaman dan jaringan di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang pernah diikuti waktu menjadi mahasiswa, ia mencari pinjaman uang ke beberapa sahabatnya. Berhasil mendapatkan pinjaman Rp 6.000,000. Dirasa cukup, Samsul yang juga alumni mahasiswa STIT Blitar ini lantas nekat berangkat ke Malaysia.

Singkat cerita sesampainya di Malaysia langsung bekerja dan mendapatkan gaji setiap awal bulan. Pria pecinta rokok jenis kretek ini dengan semangat menceritakan “Sempat menikmati gajinya selama sepuluh bulan pertama di Perusahaan milik tuan Steven als Leo keng Liok”. Beberapa kali keluarga di Indonesia sempat menikmati hasil kerjanya.

Namun Samsul kembali menunjukan kesedihan kala ingat, perusahaan yang bergerak dibidang lifestyle Golf sudah tidak menggajinya lagi. Ia ingat betul kekejaman perusahan yang berkantor di Leisure golf services 0-46 block O, Jl PJU 1A/3 Taipan 2, Aradamansara 47301, Petalingjaya, Selangor, Darul Ekhsan.

Selama 31 bulan terakhir bekerja, Samsul tidak menerima gaji sedikitpun. Hingga akhirnya memutuskan karena sudah tidak kuat. Total gaji tidak terbayar sebesar Rm. 24.600. Ini belum termasuk karyawan yang senasip, entah berapa bulan tidak digaji. Yang jelas kalau dihitung rupiah total gaji yang tidak diberikan tembus hingga Rp 140 jutaan.

Samsul dan lima puluh pekerja yang senasib harus menerima keadaan tidak bisa kemana-mana. Selama bekerja, semua dokumen penting ditahan perusahaan. Hari-hari hanya bekerja dan bekerja tanpa bisa menikmati suasana diluar arena tempat kerja. Selama tidak digaji hanya main kartu domino, bermain musik alat seadanya untuk menghibur diri.

Suasana malam semakin hening, sambil menggeser kursi ke arah depan, ia menceritakan, masih ingat di benak Samsul, “Tidak digaji dengan alasan:  setiap bulan mendapatkan fee, alangkah baiknya gaji dikumpulkan di keuangan perusahan agar waktu pulang ke Indonesia mempunyai tabungan”. Namun Samsul tidak habis pikir hingga sampai habis kontrakpun tidak dibayarkan.

Akhirnya pada pertengahan tahun 2018, orang yang pernah menjadi tim pemenangan salah-satu calon legeslatif dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), ini memutuskan pulang dengan cara menyerahkan diri ke KJRI.

Sesampainya di Indonesia, Samsul berharap bisa menemukan kebahagiaan walau dengan keterbatasan ekonomi. Namun takdir belum juga berpihak pada bapak dua anak ini. “Ibarat jatuh tertimpa tangga pula”. Mungkin pepatah lama ini tepat untuk menggambarkan kondisi Samsul setelah ke kampung halaman.

Selama bekerja saat masih mendapatkan gaji, Samsul dan istrinya sempat menabung hingga hampir Rp 100 juta. Dengan uang itu, mereka berencana membuat rumah di Desa Sutojayan, Kecamatan Lodoyo. Proses awal membuat rumah pun dilalui dengan mulus. Komunikasi dengan tukang pemborong bagunan berjalan dengan lacar. Rasa saling percaya antara Samsul dengan pemborong terbangun tanpa syarat. Kebetulan calon pemborong adalah keponakannya sendiri.

Namun naas, apa yg dialami Samsul dan keluarga kecilnya tidak sesuai harapan.  Keponakan sebagai pemborong melarikan diri membawa uang Rp 75.000,000. Pekerjaan membuat rumah mandek, terbengkalai. Harapannya hancur.

Sambil menghisap rokok kretek, orang yang berambut ikal ini mencoba mengikhlaskan apa yang telah terjadi pada dirinya. “Ah semoga gusti Allah memberi kemudahan bagi saya dan keluarga”. Ia juga menambahkan, dikejar bagaimanapun juga susah, mau melaporkan ke pihak yang berwajib tidak tega. Sungguh tegar Samsul dalam menghadapi semua cobaan ini.

Dalam kondisi pada titik terendah, Samsul memanfaatkan situasi tersebut. Justu dengan keadaan demikian, menjadi titik balik motivasi untuk bangkit lagi. Ibarat walau sudah menangis darah, ia harus berusaha bangkit. Menantu yang mendapatkan warisan hak mengelola sebidang tanah ini mulai mencari solusi, agar keberlangsungan hidup dan rencana membuat rumah bisa terwujud. Atas dasar itu, dengan modal sebidang sawah ia kelola berharap hasilnya untuk menyambung hidup.

Benar saja, Samsul bekerja keras siang malam di sawah. Layaknya petani pada umumnya, ia dan istri menanam sesuai musim. Hal ini dilakukan karena kegiatan pertanian masyarakat setempat mengandalkan air hujan untuk kebutuhan air. Kadang, saat lama tidak ada hujan terpaksa harus membawa air dari rumah.

Akhirnya kerja keras Samsul bersama istri dalam upaya mengembalikan kondisi ekonomi keluargapun berhasil. Dari hasil panen sawah sebagian disisihkan untuk modal usaha lain. Kebetulan Samsul pernah belajar membuat bibit Jamur Tiram. Berbekal pengalaman itu samsul merintis budidaya jamur tiram. Untuk memaksimalkan modal usaha, Syamsul memutuskan pinjam uang ke Bank BRI sebanyak Rp 15 Juta.

Lima bulan terakhir terhitung sampai bulan September 2019, Hasil sawah dan budidaya jamur tiram mampu mencukupi kebutuhan hidup. Bahkan lebih. Samsul mengakui kini punya karyawan harian lepas yang membantu usahanya. “Hasilnya kalau untuk kebutuhan sehari-hari dan menggaji karyawan masih bisa”. Tegasnya.

“Maka dari itu mas, saya bisa ngurus gaji saya yang sampai sekarang belum dikasih. Pokoknya kepada siapapun, kemanapun saya akan kejar. Mau harus ke kota pacitan (kediaman istri mantan bos) hingga kini saya ke Jakarta sudah dua kali. Saya lakukan demi mengejar hak gaji saya dan kawan-kawan” tutur Samsul dengan suara meledak-ledak, nyaris tanpa tawa.

Samsul mengakui, selaku korban sekaligus yang dituakan, dianggap mengerti oleh kawan senasib mau tidak mau harus bergerak. Mencoba memberi jawaban apa yang menjadi keinginan mereka, yakni menuntut hak gaji.

Upaya menuntut gaji yang ia lakukan bersama kawan-kawannya mengalami banyak kendala. Mereka juga tidak menafikan, sebagian banyak karyawan dari awal sudah cacat. Mereka kebanyakan berangkat mandiri tanpa melalui PT. Dari tujuh orang yang nekat ke Jakarta hanya dua orang yang melalui PT. Penyalur Tenaga Kerja Indonesia. “Waktu kami lapor ke Bareskrim kita juga diberi tahu, data untuk menggugat ke pihak perusahaan sangat lemah.” Ujar laki-laki dari Lampung yang proses berangkat ke Malaysia tidak resmi.

Mendapatkan penjelasan dari penegak hukum mereka para BMI mulai tidak percaya diri atas usaha yang dijalani sia-sia. “Saya jauh dari Lampung ke Jakarta berharap ada solusi, dari siapapun yang mau membantu kami. Syukur-syukur langsung ketemu bos pemilik perusahaan  dan dibayarkan gajinya, tetapi kalau melihat bahan untuk menggugat  yang tidak lengkap kami jadi pesimis”. sebut orang yang punya nama lengkap Andika Pranata Rudiansyah.

Adanya bahan pelaporan yang tidak kuat, mereka pasrah sekaligus berharap ada jalan lain. Mengingat orang yang mempunyai nama lengkap Samsul Ma’arif dinilai mempunyai Pendidikan paling tinggi, mereka berharap kepada Samsul mengambil alih kepemimpinan romobongan. Mencarikan solusi terbaik bagaimanapun caranya. Ia pun dengan terpaksa menerima desakan dari teman-temannya, menjadi pelopor selama di Jakarta.

Berbekal pengalaman pas-pasan ia lalu menghubungi orang se kampung yang bekerja di salah-satu lembaga advokasi buruh migran. Teman tersebut bernama Suharsono yang bekerja di lembaga Migrant Care. Samsul meminta bantuan mencarikan solusi. Waktu itu langsung mendapatkan jawaban positif, mereka selama di Jakarta dalam rangka mencari keadilan ditampung di kantor. Semua kebutuhan makan dan tempat tidur disediakan gratis.

Bersama Migrant Care, Samsul dan kawan-kawan BMI lain melakukan lawatan ke berbagai lembaga hukum dan pemerintah mengadukan nasipnya. Di mulai dari merapikan aduan di Bareskrim, mengadu ke Kemenaker RI, Komisi DPR RI  yang terkait, hingga Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia Dan Badan Hukum Nasional.

Dari sekian usaha mencari Solusi, mereka masih mendapatkan jawaban yang tidak pasti. Hingga satu minggu berada di Jakarta hanya melaporkan dan melaporkan keadaan. Oleh instansi terkait dicatat dan akan dicarikan solusi, terutama mendapatkan hak gaji. Namun Walaupun begitu,  sebenarnya semua sadar, permasahan ini sulit untuk ditindak lanjuti.

Akhirnya, Samsul dan kawan senasibnya sadar, bahwa bekerja di negara lain harus melalui jalur resmi. Mereka berpesan, siapapun yang mau bekerja menjadi buruh migran Indonesia jangan mandiri. “Apalagi berangkat melalui jalan tikus. Jangan sampai niat mencari nafkah untuk keluarga justru mendapatkan masalah. Lebih baik kerja di negeri sendiri berapapun hasilnya”. Pungkas samsul.

Penulis : Sodiqul Anwar (Pembina Lembaga Moeda Patria Blitar)


Artikel ini telah dibaca 75 kali

Loading...
Baca Lainnya