Opini Sastra

Jumat, 31 Januari 2020 - 22:17 WIB

9 bulan yang lalu

logo

Screening dan Bedah Film “SARUNG” di CGV Blitar Square. Jum'at, (31/01/2020).

Screening dan Bedah Film “SARUNG” di CGV Blitar Square. Jum'at, (31/01/2020).

Bedah ‘SARUNG’

MATABLITAR.COM– Mungkin bagi kalian menonton film menjadi bagian “asik” dalam menemani waktu suntuk kerja dalam sepekan. Pun demikian dengan saya, menonton tidak hanya sebatas menghibur diri atau mengistirahatkan kinerja otak yang terus berpacu tanpa henti. Akan tetapi menonton juga menjadi bagian dari belajar, membaca, dan mengenal.

Baik, bicara soal menonton dan dunia perfilman, tentu tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Kreasi dan kreatifitas anak bangsa selalu ada tanpa henti. Apalagi di era digital 4.0 yang menuntut penghuninya untuk tidak apatis terhadap dunia digitial. Salah satu diantaranya, karya anak bangsa yang berjudul “SARUNG”.

Baca Juga : MEMBANGUN KESADARAN BERPOLITIK GENERASI MILENIAL

Grantika Pujianto sebagai sutradara menyatakan bahwa karya tersebut sengaja dibuat dan didedikasikan untuk NU dan para santri Nusantara. Grantika merupakan seniman muda asal Panggungrejo yang tidak hanya menyukai dunia seni dan perfilman, tetapi juga suka terhadap olahraga Mendaki.

Aktor SARUNG melibatkan orang Blitar berikut dengan pengambilan lokasinya, sebagai bentuk kecintaan terhadap Bumi Bung Karno dan Indonesia. Tepat pada hari ulang tahun NU yang ke 94, Grantika berhasil menyajikan suguhan karya anak bangsa kepada Ulama, Kiai, Pejabat Pemerintah, dan beberapa kalangan masyarakat melalui Screening dan Bedah Film “SARUNG” di CGV Blitar Square. Jum’at, (31/01/2020).

Kesan “baru” telah mewarnai para penggerak NU tadi malam saat merayakan harlah NU Ke 94 Tahun dengan tumpeng dan menonton film. Dakwah yang biasanya dilakukan dengan metode ceramah, kemudian dikemas dalam model perfilman.

Awalnya saya berpikir SARUNG tidak memiliki akronim. Dalam benak saya SARUNG ya salah satu pakaian bawahan yang tidak pernah lepas dalam kehidupan santri dan pesantren. Bahkan mindset tentang SARUNG sampai hari ini masih identik dengan santri dan pesantren.

Namun demikian, SARUNG ala Grantika tidak berhenti sampai disana, SARUNG adalah akronim dari Santri Untuk Negeri. Bagi saya, SARUNG merupakan film dokumenter tentang santri dan dunia pesantren. Menanamkan karakter insan kamil dan teguh pendirian dalam jiwa santri.

Menerapkan dan mempertahankan konsep sami’na wa ata’na (saya mendengar dan mentaati) menjadi hal menarik dari kisah ini di tengah pergeseran paradigma. Boleh dikata “santri nderek kiai (santri ikut kiai)” menjadi satu-satunya prinsip paten bagi santri yang tercermin di beberapa aktor SARUNG.

Sedangkan paradigma masyarakat khususnya kalangan muda hari ini sedikit banyak telah bergeser menjadi sami’na wa ‘asahaina (saya mendengar dan tetap bermaksiat). Ibarat kereta api yang masuk dari arah timur gerbong stasiun dan keluar di gerbong barat, atau air yang mentes di daun talas. Hilang dan tidak pernah berbekas.

Begitu pula dengan kondisi anak muda sekarang, mereka tahu bahwa satu atau dua hal ini dilarang oleh norma dan agama, tapi tetap saja mengerjakan seakan tanpa dosa. Bung Karno pernah berkata “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 berpemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”, dari sini dapat dibaca peran penting pemuda bagi negeri ini.

Dari itu, Grantika mengajak masyarakat muda dengan SARUNG(nya) agar selalu menjaga norma-norma keislaman ala wali songo yang mulai terkikis. Di beberepa adegan tampak bagaimana permainan jaman dulu telah menghilang dan atau jarang ditemukan di jaman ini. Semisal gedrik, menyebutkan nama-nama hewan melalui abjad di hitungan jari dalam satu kelompok dan sebagainya telah bergeser menjadi permainan ala android.

Tak ada lagi tegur sapa satu sama lain, pun juga tak ada tawa bareng-bareng. Semuaya sudah terlena pada gadget dan cenderung mengabaikan orang lain (phubbing). Alih-alih tertawa bareng, menertawakan diri sendiri seakan hal paling asik melalui tontonan lucu di media elektronik.

Film yang berdurasi kurang lebih 90 menit itu juga tidak apatis terhadap teknologi, terlihat di salah satu adegan si Jalal dan Neng Ngesti menggunakan Hp Android. Setidaknya salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh Grantika dan segenap crew bahwasanya menggunakan teknologi di era 4.0 seyogianya dengan bijak dan adil. Bijak dalam hal pemakaian dan adil terhadap lingkungan sekitar. Tidak heran jika dalam penanyangan perdana ini menuai banyak pujian baik dari pemerintah daerah maupun dari kalangan NU.

Drs. H. Rijanto sebagai Bupati Blitar memberikan kesan bahwa di SARUNG tidak hanya membeberkan wajah santri dan pesantren, akan tetapi juga beberapa objek wisata keindahan alam Blitar, baik Kabupaten maupun Kota. Sehingga beliau sangat mendukung untuk penayangan selanjutnya walau di amphi theater penataran. Tidak hanya itu, menurut pak Rijanto meski film ini dilaksanakan murni swadaya, tetapi mampu memberikan wajah ke-NUan dan kepesantrenan di Blitar yang pastinya akan menjadi pembelajaran bagi daerah lain.

Baca Juga : Kini MWC NU Kademangan Miliki Kantor Baru, dan Toko Tali Bumi Grosir

Kesan hampir senada juga disampaikan oleh Ketua Tanfidziyah NU Blitar KH. Masdain Rifai. “Harlah NU yang ke 94, Masya Allah untuk Blitar. SARUNG luar biasa, film ini betul-betul swadaya tanpa sponsor. Saya sebagai ketua NU saja tidak dimintai bantuan. Dan memang ga bsa bantu apa-apa, kecuali pak Rijanto dan pak Santoso, kebangetan jika tidak membantu. Meski NU tidak bisa membantu apa-apa, setidaknya NU bisa membantu mendoakan proses dakwah yang dilakukan kalangan muda NU” tegas beliau saat sambutan di akhir acara Screening SARUNG.

Beberapa catatan terhadap film ini juga disampaikan oleh beliau, ”Kultur keilmuan sudah tersentuh, akhlak anak didik sudah terbaca, dan NU sudah tampak. Hanya ada satu, nahi munkarnya belum tampak. Karena proses amar makruf nahi munkar adalah satu kesatuan. Jadi tadi nahi munkarnya pesantren belum tampak. Seperti pencak silat dan sebagainya. Darul mafasid harus tampak. Karena melawan kemunkaran, banyak yang tidak suka, karena banyak risiko. Tapi kalau amar makruf, kabeh demen, semua suka sama gambar Surga.” Ucap Gus Dain sembari diiringi anggukan beberapa aktor dan sutradara yang berada tepat disamping beliau.

Layaknya manusia pada umumnya yang jauh dari “kesempurnaan”, Grantika juga menyampaikan di akhir sesi bahwa tayangan ini belum final jadi film yang sesungguhnya. Karena pada dasarnya tayangan perdana adalah proses pentashihan untuk kemudian dinaik tayangkan ke premire. Bagi saya, karena tidak semua orang Indonesia memahami Bahasa Jawa Kromo (halus), perlu juga diberikan translate atau terjemahan dialog pada film SARUNG.

Melihat objek pemasaran yang tidak hanya di pulau jawa, tetapi se-Nusantara. Tak kalah penting dalam pengambilan objek, masih kentara adanya gerakan kamera saat mengambil shoot. Berikut dengan segmen alurnya yang barangkali butuh diperbaiki se apik mungkin.

Penulis : MOH. AZHARI, M.H.
(Bidang Riset dan Survey LAKPESDAM NU Kabupaten Blitar)


Artikel ini telah dibaca 824 kali

Loading...
Baca Lainnya