Opini

Kamis, 9 April 2020 - 12:55 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi (sumber : https://unsplash.com/@artypj)

Ilustrasi (sumber : https://unsplash.com/@artypj)

MASA DEPAN SURAM PERTANIAN DI INDONESIA

MATABLITAR.COM- Pertanian adalah sektor yang penting dalam keberadaan suatu negara. Sektor ini merupakan penunjang utama untuk menyokong kebutuhan pangan rakyat. Tidak mengherankan apabila terdapat sebuah negara yang mementingkan sektor ini dibanding yang lain.

Misalnya di Negara Thailand. Disana, sekolah yang mempunyai latar belakang pertanian, seluruh biaya pendidikan sudah ditanggung pemerintah, baik administrasi para siswa, biaya operasional sekolah, hingga gaji tenaga pengajar. Hal tersebut mencerminkan betapa sektor pertanian begitu dianggap penting.

Baca Juga : KARMA DAN MATINYA KEMANUSIAAN

Sementara itu di Indonesia sektor pertanian lambat laun semakin terkucilkan. Padahal Indonesia sering dijuluki sebagai Negara Agraris. Memang anggaran untuk pendidikan sangat besar, akan tetapi hal itu tidak spesifik ke dalam pendidikan pada bidang pertanian. Seperti yang kita lihat di media, sektor industri memang menjadi garapan utama pemerintah. Maka dari itu, jangan tanya apabila luas lahan pertanian setiap tahunnya mengalami penyempitan. Atau yang lebih ironis, kegiatan impor bahan pangan semakin meningkat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kaitannya dengan pendidikan di bidang pertanian. Setiap tahun jumlah mahasiswa yang menggeluti bidang ini menurun. Generasi masa depan bangsa lebih memilih jurusan yang dipandang mempunyai nama seperti jurusan ekonomi, sosial politik, ataupun hukum. Peranan pemerintah dalam hal ini sangat dibutuhkan untuk memupuk kembali pentingnya sektor pertanian.

Seperti halnya di Negeri Gajah Putih. Seharusnya pemerintah juga menerapkan hal serupa untuk memikat warga negaranya belajar tentang pertanian. Dengan penerapan hal tersebut diharapkan regenerasi sumber daya manusia tetap terlaksana. Dan keberlangsungan di masa depan tetap terjamin.

Kampus-kampus juga harus mengambil gebrakan yang besar. Perguruan tinggi bukan kumpulan pemuda karang taruna ataupun ibu-ibu PKK. Melainkan kumpulan orang-orang berintelektual. Jajaran kampus harus berani membuat inovasi, tidak seperti anak kecil yang nurut begitu saja kepada pemerintah. Perguruan tinggi harusnya memasyarakatkan kampus bukan mengkampuskan masyarakat. Wabil khusus yang menyangkut pertanian.

Petani membutuhkan dukungan pemerintah serta peran mahasiswa. Warga negara menunggu hasil dari petani sebagai penghasil bahan pangan.

Baca Juga : PAIJO DAN COVID-19

Pertanyaannya. Apakah kita rela sumber daya alam yang melimpah ini sia-sia begitu saja ?.

Apakah kita rela sumber daya tersebut dikelola oleh pihak asing ?.

Sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah. Banyak petani berlaku sewenang-wenang melebihi aparat. Mereka bertani dengan cara yang asal-asalan. Tidak mementingkan keberlangsungan pertanian yang akan datang. Penggunaan bahan kimia yang berlebih tentu berdampak buruk untuk masa depan. Hal itu diperparah dengan sikap keras kepala para petani yang semaunya sendiri.

Terus sampai kapan hal ini akan terus terjadi. Pemerintah yang menomorduakan sektor pertanian, mahasiswa yang salah tujuan belajarnya salah, kampus yang tidak melihat realitas di masyarakat, dan petani yang keras kepala.

Kita berdoa saja, semoga pertanian maju di Indonesia tidak hanya menjadi dongeng di bangku Sekolah Dasar.

Penulis : Muhammad Thoha Ma’ruf
(Mahasiswa Universitas Islam Balitar)


Artikel ini telah dibaca 203 kali

Loading...
Baca Lainnya