Edukasi Sastra

Minggu, 12 Juli 2020 - 16:01 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Siti Mutoatin KPM Graduasi Sejahtera Mandiri PKH dari Desa Kendalrejo Kecamatan Talun Saat di Depan Galeri Baju Miliknya

Siti Mutoatin KPM Graduasi Sejahtera Mandiri PKH dari Desa Kendalrejo Kecamatan Talun Saat di Depan Galeri Baju Miliknya

Perjuangan Bu Siti, Menuju Graduasi Sejahtera Mandiri PKH

MATABLITAR.COM– Adalah Siti Mutoatin merupakan keluarga penerima manfaat (KPM) progam keluarga harapan (PKH) semenjak tahun 2012, ia bersama suami dan dua anak Balita yang menjadi komponen PKH nya tinggal di wilayah Kecamatan Talun Kabupaten Blitar, tepatnya di Desa Kendalrejo RT 01 RW 09.

Kehidupannya cukup sederhana, dengan gaji suami yang bekerja dalam bidang jasa, Bu Siti merasa perlu mencari tambahan pendapatan keluarga. Karena sedikit banyak kebutuhan anak sudah tercukupi oleh bantuan PKH, sehingga Bu Siti pun bisa menyisihkan sisa belanja keluarga untuk ditabung.

Dengan tabungan yang sudah terkumpul sebanyak 3 juta an, Bu Siti bertekat memulai usaha, ia berfikir keras tentang usaha apa yang bisa dijalankan, sambil tetap bisa merawat kedua anaknya yang masih Balita, anak yang satu bersekolah di Paud, dan satunya masih menyusui.

Baca Juga : KARMA DAN MATINYA KEMANUSIAAN

Dengan semangat ingin merubah keadaan ekonomi keluarga, ahirnya Bu Siti mendapatkan ide berjualan baju anak – anak. “Awalnya suami saya menolak, karena hawatir nantinya modal tidak kembali, dan malah habis. Namun setelah saya yakinkan suami, beliau mengizinkan saya mulai usaha” kata Bu Siti sambil pandangannya menerawang jauh ke masa lalu.

Mengawali usahanya, dengan modal yang pas pasan, Bu Siti mulai berbelanja baju anak anak untuk dijual lagi. Sambil menggendong anaknya yang kecil, dan mengantar anaknya yang besar ke sekolah, tak lupa Bu Siti membawa plastik berisi baju dagangan, ia menawarkan dagangannya ke teman temannya sesama wali murid, serta juga kepada bapak ibu guru sekolah tempat anaknya belajar.

Jam 9 pagi setelah anaknya yang Paud selesai belajar, ia titipkan anaknya ke mertua, lalu Bu Siti melanjutkan berdagang keliling, menyusuri jalan dan gang gang kecil, dari rumah kerumah ia datangi. Saat matahari meninggi, dan terik panas mulai menyengat, Bu Siti akan pulang dulu untuk melihat anaknya, dan menyusui secukupnya, setelah itu ia berangkat lagi menawarkan dagangan dengan penuh harapan.

“Satu hari dapat 30 ribu, 50 ribu terkadang juga 70 ribu rasanya sudah sangat bahagia sekali” ucap Bu Siti sambil tersenyum. Meski sebelumnya Bu Siti pernah juga merasa putus asa dan malu, saat capek berkeliling dan dagangan masih juga belum laku, tetapi Bu Siti mampu melawan keputusasaan nya itu, ia berfikir bagaimanapun juga harus tetap bertahan, karena hanya usaha inilah yang bisa dilakukan sambil merawat anaknya yang masih kecil kecil.

Baca Juga : PAIJO DAN COVID-19

Setelah beberapa Minggu berjalan, Bu Siti merasakan kalau usahanya tersebut cukup lumayan menambah penghasilan keluarga, suaminya pun semakin percaya. Sedikit demi sedikit saat ada tabungan, Bu Siti gunakan untuk menambah dagangannya, tidak hanya baju anak anak, tetapi juga baju dewasa. Yang awalnya hanya berkeliling di tetangga tetangga saja, Bu Siti mulai berkeliling juga ke desa desa sekitar.

Dengan keuletan Bu Siti, usahanya terus berkembang, dagangannya semakin banyak. Ruang tamu oleh Bu Siti disulap menjadi galeri baju baju, banyak langganan yang sudah mengenal Bu Siti, mereka memilih datang langsung ke rumah Bu Siti untuk melihat lihat baju. Sambil menunggu galeri bajunya, Bu Siti mengembangkan usahanya dengan jualan LPG, Bensin dan cilot di depan rumahnya.

Meski sudah ada galeri baju dirumahnya, Bu Siti masih tetap berjualan keliling, namun hanya dua hari saja dalam seminggu, yakni setiap hari Sabtu dan Minggu, selebihnya ia berjualan dirumah, sambil mencoba berdagang online. Stok dagangan yang Bu Siti punya, ia foto dan ditawarkan ke group group WhatsApp, juga ke akun Facebook nya.

Melihat pasar online ternyata bagus, Bu Siti mencoba untuk berjejaring dengan produsen baju baju, maupun dengan suplayer besar, ia membangun kerjasama untuk jadi reseller. Bu Siti terus belajar bagaimana menawarkan produk produk melalui media sosial, bagaimana alur pengiriman barang dalam kota, luar kota maupun ke luar negeri.

Setelah beberapa tahun berjalan, ahirnya Bu Siti mendapatkan mitra produsen baju yang cukup besar, kualitasnya bagus dan harganya juga sangat bersaing. Ahirnya Bu Siti yang tadinya menjadi reseller, pelan pelan ia coba mencari reseller yang mau bermitra dengan nya.

Kini Bu Siti mempunyai beberapa reseller yang bermitra dengan nya, reseller tersebut tersebar di beberapa daerah, ada yang dari Jawa Tengah, Ponorogo dan Jember, ada juga temannya yang sedang di luar negri seperti di Hongkong, Taiwan dan Malaysia juga menjadi reseller nya.

Kegigihan Bu Siti membuahkan hasil yang memuaskan, penjualan dagangannya semakin hari semakin meningkat, kirim baju ke luar kota maupun ke luar negri sekarang sudah biasa dilakukan oleh Bu Siti. Ditahun 2019 omset penjualan Bu Siti sudah mencapai 300 juta lebih.

Baca Juga : Kesejahteraan Keluarga Meningkat, 3 KPM Asal Tumpang Ajukan Mundur Dari Peserta PKH

Sedangkan ditahun 2020 ini, dalam beberapa bulan terakhir, Bu Siti merasakan omsetnya mengalami penurunan, hal itu disebabkan menurunnya jumlah pembeli, yang dimungkinkan karena dampak wabah Covid-19 sedang melanda Dunia. Dengan kondisi usaha yang sudah berkembang baik, Bu Siti dan keluarganya telah mengundurkan diri dari kepesertaan PKH di akhir tahun 2019.

Bu Siti merasa gembira bisa menjadi KPM graduasi sejahtera mandiri. Dengan adanya progam PKH ia sangat berterimakasih, karena keluarganya sangat terbantu, ia berharap semoga peserta PKH yang lain, dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya, dan akhirnya bisa graduasi sejahtera mandiri sebagaimana keluarganya.

Penulis: Putut Dairobi (Pendamping Sosial PKH Kec. Talun Blitar)


Artikel ini telah dibaca 400 kali

Loading...
Baca Lainnya