Rumah Bersama itu Bernama UGD

Ilustrasi

Petarung UFC berusia 30 tahun bernama Dong Ma Hyun Ma mengalami cedera mengerikan ketika bertarung dengan juara ringan XFC Scott Holtzman.

Akhirnya pada ujung babak ke-2, tim dokter intervensi dengan menghentikan pertandingan, karena Dong sudah tidak bisa bertanding normal. Ia sudah tidak bisa melihat lagi. Luka berdarah menutupi matanya.

Bacaan Lainnya

Tak jauh beda. Saat 2014 para kader potensial memilih bertanding di kancah politik dengan jadi caleg. Banyak yang bondo nekat. Tanpa amunisi cukup.

Hanya bermodal wacana ideologis cerita surga dan janji janji bantuan keuangan untuk bergerak. Alhasil, jalan politik yang awalnya santun berubah kejam. Lawannya serigala ganas nan kejam.

Pura pura mati dengan tidak bergerak pun akan di koyak koyak. Sampai taring srigala dengan gigi tajam akrobat di tubuh caleg potensial, memporak porandakan jantung.

Tabungan yang semula untuk modal kerja habis Tak tersisa. Untuk pertemuan dan ritual rapat kader dan tim sukses. Sertifikat melayang ke BPR . Tapi ada kepastian.

Bahwa kalau tidak tercapai cita cita maka hutang ini akan jadi siklus 5 tahunan. Artinya baru lunas 5 tahun. Dan kalau daftar lagi caleg, kalah lagi, maka jelas hutang ini setia selama 5 tahun terbayar belum tentu lunas.

Sungguh ironi bagi aktifis, kader organisasi, senior pergerakan. Maju seperti keledai dungu, yang jatuh berulang kali pada lubang yang sama.

Saat itu harapan utama mimpi didatangi malaikat pemberi rezeki. Tapi namanya mimpi. Saat bangun ya sudah hilang semuanya.

Hari ini jelang Muscab salah satu lembaga di Blitar. Semua kandidat diam. Hanya tarian tarian kecil dan nostalgila. Semua samar.

Lembaga harus menjadi rumah besar. Menjadi rumah nyaman bagi para aktifis. Dimana pengkaderan jalan masif dan menjadi arena untuk melahirkan para pemimpin hebat. Di rumah ini segala harapan berkembang memenuhi langit.

Karena di pojok sempit pondasinya, kami juga meniupkan fragmen Sang Pemimpin. Sebuah peringatan penanda untuk rasa jumawa yang sombong. Sebagai penanda yang akan dihapus segera, karena banyak yang galau dengan masa lalu.

Aih… aih… Rumah bersama itu kau pasang selang, tabung oksigen, kursi roda, dipan dorong dan ampul darah. Banyak suster dan dokter memainkan stetoskop dengan kata kata amputasi yang diulang ulang.

“Jangan kuatir. Darahku cukup, nyaliku cukup. Hanya warasku yang hilang. Aku akan nggetih memoles UGD ini menjadi rumah pergerakkan”.

Penulis : Rudiyanto HS (Aktifis Pemberdayaan Masyarakat)

Pos terkait